Allahu Rabbana,
Tak pantas aku menjadi penghuni surga,
Namun tak juga kuat hamba dalam bara neraka,
Maka perkenankan jiwa meminta,
Ampunan atas khilaf dan nista
Sebab hanya Engkau, pengampun yang paling Maha
(Abu Nawas)
Adalah seorang perempuan datang menghadap Rasulullah dengan wajah menatap tanah. Masih dalam keadaan tertunduk, perlahan terdengar nafas beratnya keluar satu satu. Sebuah isyarat bahwa ia seperti tengah dihimpit bertubi masalah. Dia masih saja diam. Tak ada untaian kata-kata. Hening. Rasulullah menunggu. Manusia berparas indah dan mempesona ini seolah tahu, seorang perempuan datang ke hadapannya selalu dengan satu perlu. Dalam beberapa jeda, Rasululah membiarkan perempuan ini dalam diamnya, memberinya kesempatan untuk mempertimbangkan apa yang hendak disampaikan. Dalam kegundahan yang jelas terasa, berkata juga sang perempuan.
“Wahai manusia terbaik, dengan apa kubahasakan malu ini pada Allah Yang Maha Kuasa. Haruskah dengan isak yang menyesak? Dengan kata yang menyemesta? Dengan keluhan-keluhan panjang?”
“Apakah gerangan yang terjadi?” Rasulullah bertanya.
“Demi engkau yang dijaga dari segala khilaf, ingin kusampaikan bahwa aku telah melakukan sebuah dosa besar. Wahai Rasulullah, betapa malu kumenghadapkan diri kepada Allah. Betapa tersiksa, ketika hamba menengadah mengharapkan benderang Nya. Obati jiwa ini wahai kekasih Nya” perempuan ini mengucapkannya dengan gemetar. Kini isakannya perlahan terdengar. Rasulullah mendengarkan keluh perempuan dengan haru yang menyatu. Betapa perempuan ini malu kepada Allah Yang Maha Pengampun. Betapa perempuan ini tak mampu menengadahkan pinta kepada Allah Yang Maha Asih dan Maha Sayang. Hingga ia sekarang bersimpuh peluh di hadapannya untuk memohon penawarnya. Dari bibir manis Nabi yang Ummi terucap sebuah titah.
“Bertaubatlah kepada Allah, wahai perempuan yang melakukan dosa besar!”
“Hamba teramat ingin melakukannya, tapi bumi telah menjadi saksi semua dosa yang telah diperbuat, dan bukankah kelak bumi akan menjadi saksi di hari kiamat?” pedih perempuan ini sambil menangis.
“Bumi tidak akan menjadi saksimu” tukas Rasul Allah. Selanjutnya beliau melafalkan QS Ibrahim : 48 “Hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain..”. Perempuan itu masih saja terlihat sedih. Perkataan Nabi hanya singgah di telinga, tapi tidak di hatinya. Selanjutnya dengan kelu lidah perempuan ini berujar parau.
“Wahai kekasih Nya, Dari atas, langit juga telah menyaksikan dosa hamba, kelak ia akan menjadi saksi pula”. Mendengar ini, Rasulullah segera menjawab, berharap bahwa perempuan dihadapannya segera tenang dan tidak gelisah.
“Allah akan melipat langit. Bukankah Ia sendiri telah berfirman dalam surat Al-Anbiya 104, Hari ketika Kami menggulung langit bagai menggulung lembaran kitab ..”. Perempuan ini tersenyum mendengar tutur penyeru dari manusia paling indah. Betapa ia juga merasakan bahwa Rasulullah tengah meredakan kegundahannya. Namun, senyuman itu surut ketika tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Ia pun berseru.
“Duhai Nabi, bukankah para malaikat pencatat segala amalan juga mencantumkan dosa besar itu dalam buku mereka. Bagaimana ini?” rintihnya putus asa.
“Allah telah berfirman, Sesungguhnya amal baik dapat menghilangkan amalan buruk (QS Hud :114)” Nabi melanjutkan “Orang yang bertaubat itu seperti orang tak lagi punya dosa”. Kali ini perempuan mengangguk-angguk lega, namun tak seberapa lama kepalanya menggeleng keras, ragu itu kembali menderas.
“Lalu bagaimana dengan firman Nya yang menyebutkan “Hari ketika lidah mereka, tangan mereka dan kaki mereka menjadi saksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS An-Nur 24) tutur perempuan kepada Nabi. Rasulullah kembali menjawab dengan suara yang fasih. Untaiannya begitu merdu meyakinkan perempuan yang bertanya.
“Allah telah berfirman kepada bumi, juga segenap anggota tubuhnya : “Tahan dirimu, jangan tunjukkan kepada orang yang diterima taubatnya, keburukan selama-lamanya”. Suasana hening. Udara menghantarkan ketenangan. Perempuan semakin tertunduk. Ada banyak gumpalan perasaan yang tak bernama. Allah Maha Pemurah. Terakhir perempuan ini berujar “Benar, wahai Rasulullah, itulah hak orang yang bertaubat. Tetapi gemetar karena malu di hari kiamat, dan rasa malu itu juga adalah dari Allah. Mungkinkah seorang hamba menanggungnya? Padahal engkau pernah bersabda ‘Sesungguhnya orang yang berdosa pada hari kiamat akan menyebut dosa-dosanya lalu malu kepada Allah. Keringat, dosanya, mengucur karena malu. Air keringat akan mengambang hingga menutup lututnya, ada sebagian yang menutup pusarnya dan ada pula yang hingga menutup kerongkongannya”. Tanpa menunggu Rasulullah pun bertutur.
“Maka wahai orang yang beriman, kenanglah hari itu, jangan pernah melalaikannya. Bertaubatlah kepada Allah, mendekatlah kepada Nya. Sesungguhnya Allah, Yang Maha Tinggi adalah Tuhan Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang”
Dan seketika perempuan ini menangis, air mata yang tak lagi sama seperti semula. Bening air mata yang tumpah bukan lagi karena gundah. Bening air mata yang terjelma bukan lagi karena lara. Bening itu karena gundahnya reda. Bening itu karena laranya sirna. Ia mematrikan setiap kuntum ucap dari sabda Nabi yang Mulia di kedalaman jiwa. Betapa Allah Maha penerima taubat. Betapa Allah Maha Welas atas semua hamba. Sepenuh bumi ia sudah melakukan dosa, sebanyak buih di laut ia pernah berbuat khilaf, serta seberserak pasir di pantai ia bernista maka hanya dengan taubat semuanya dapat tertebus. Dan dengan rahmat Nya yang agung, Allah merengkuh hamba yang kembali. Jua, karena cinta Nya yang paripurna, Allah akan segera menghampiri seorang anak manusia yang kembali pada Nya meski dengan tertatih ringkih.
***
Sahabat, dalam setiap detik yang berdetak. Dalam menit yang berhamburan tak kenal ampun. Juga dalam bilangan jam yang menukik tak terhentikan. Diamlah sejenak. Lihatlah di kedalaman jiwa. Tengok sebentar ujud hatimu. Adakah rupanya bersinar ataukah kau temukan ujud yang legam?. Dan pabila rupa yang kedua yang kau jumpai, maka seperti ucapan perempuan yang bersimpuh peluh di hadapan RasulNya tentang dosa-dosanya, kita juga perlu mengadospsi perkataannya sebagai manifestasi malu “Dengan apa kubahasakan malu ini pada Allah Yang Maha Kuasa. Haruskah dengan isak yang menyesak? Dengan kata yang menyemesta? Dengan keluhan-keluhan panjang?”
Tapi pernahkah kita malu dengan bebukit dosa yang diperbuat. Pernahkah merasa enggan bertemu Allah, karena malu atas segala salah yang tak akan luput dari pernglihatan Nya?. Malulah dari sekarang. Malulah dengan sebenar-benar malu, dengan sepenuh malu. Terlalu sering kita berada di sudut yang gelap karena keluar dari orbit benderang Nya. Terlalu mudah kita ingkari nikmat Nya yang agung, hingga kita benar-benar tidak tahu malu. Sekali lagi, Malulah kepada Tuhanmu.
Malu adalah sebagian dari iman, itu adalah sabda Rasulullah. Tapi malu yang seperti apa?. Dari Abdullah Ibn Mas’ud r.a, diriwayatkan bahwa Nabi bersabda “Orang yang malu kepada Allah dengan sepenuh malu adalah orang yang menjaga kepalanya dari isinya, menjaga perutnya dari segala rezeki tidak halal, selalu mengingat kematian, meninggalkan kemewahan dunia dan menjadikan perbuatan akhirat sebagai hal yang lebih utama. Sesiapa yang melakukan semua itu, maka ia telah malu kepada Allah dengan sepenuh malu”.
Dan, tahukah kalian apa yang Allah berikan sebagai imbalan kepada orang yang malu kepada Nya? Sebuah perlindungan tanpa tanding. Itu janji Nya.
Husnul Rizka Mubarikahmahabbah12@yahoo.com
Bertengkar adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga. Kalau seseorang berkata, "Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya!" kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristri, dan atau ia tengah berdusta. Yang jelas kita perlu menikmati saat-saat bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi saat-saat tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja diantarkan dalam muatan emosi.
Kalau tahu etikanya, dalam bertengkar pun kita bisa mereguk hikmah. Betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan-pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.
Ketika akan menikah, cobalah untuk memikirkan dan merancang masa depan kehidupan berumah tangga. Satu hal yang jangan sampai terlupa adalah, merumuskan apa yang harus dilakukan jika bertengkar. Beberapa poin di bawah ini barangkali bisa menjadi "ikatan pengertian" di saat bertengkar.
Kalau bertengkar tidak boleh berjamaah. Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjamaah. Seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika Anda marah dan dia mau menyela, segera Anda katakan, "STOP! ini giliran saya!"
Begitupun jika giliran dia yang marah, jangan ikut ambil bagian. Katakan dalam hati, "Guh kekasih, bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka divpadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu...."
Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah usang. Siapa pun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapa pun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan dan bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangun.
Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apa pun kecamannya, adalah "ungkapan rindu yang keras". Tapi bila itu dikaitkan dengan seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.
Bila teh yang disajinya tidak manis, sepedas apa pun saya marah, maka itu adalah "harapan ingin disayangi lebih tinggi". Tapi kalau itu dihubungkan dengan kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, plus tuduhan "Sudah tidak suka lagi ya dengan saya," maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups! saya telah membunuhnya, membunuh cintanya.
Padahal kalau cintanya mati, siapa yang sudah?
Kalau marah jangan bawa-bawa keluarga! Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa waktu, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).
Saya tidak akan terpancing marah bila cuma saya yang dia marahi. Tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba-coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapa pun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah "awal cinta yang panas ini".
Kata ayah saya, "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak." Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari maafnya dari pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..." Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!
Kalau marah jangan di depan anak anak! Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita. Karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya? Membela ibu, tapi itu kan bapak saya.
Misal, ketika anak mendengar ayah-ibunya bertengkar:
Ibu : "Saya ini capek, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, memang saya ini babu?!"
Bapak : "Saya juga capek, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu. Saya datang hormatmu tak ada, memang saya ini kuda?!"
* Anak : "Yaaa ... Ibu saya babu, Bapak saya kuda .... terus saya ini apa?"
Kita harus berani berkata : "Hentikan pertengkaran!" ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata bahasa hati kita?
Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat! Pada setiap tahiyyat kita berkata, "Assalaa-mu 'alaynaa wa 'alaa'ibaadilahissholiihiin," Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yg sholeh.
Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai-Nya, padahal nyawamu di tangan-Nya.
OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis Maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi. Marahlah habis Subuh, tapi jangan lewat waktu Zuhur, Atau maghrib sebatas Isya... Atau habis Isya sebatas..? Nnngg... Ah kayaknya kita sepakat kalau habis Isya sebaiknya memang tidak bertengkar...
Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah "proses belajar untuk mencintai lebih intens" ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki
Taken from suaramerdeka.com
Aneka kado ini tidak dijual di toko. Anda bisa menghadiahkannya setiap saat, dan tak perlu membeli ! Meski begitu, delapan macam kado ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang Anda sayangi.
KEHADIRAN
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telepon, foto atau faks. Namun dengan berada disampingnya. Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagian.
NB.: pantes ya.. setiap kali hari raya keagamaan, orang selalu berbondong-bondong mudik...
MENDENGAR
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini, sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Sudah lama diketehui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Berikan kado ini untuknya. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya. Ini memudahkan Anda memberi tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.
D I A M
Seperti kata-kata, didalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. Diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang
karenamemberinya \" ruang\". Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomeli.
KEBEBASAN
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya ? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah, \"Kau bebas berbuat semaumu.\" Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan
KEINDAHAN
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik ? (eh..)Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho. Bahkan tak salah jika Anda mengkadokannya tiap
hari ! Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana dirumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.
TANGGAPAN POSITIF
Tanpa, sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf ), adalah
kado cinta yang sering terlupakan.
KESEDIAAN MENGALAH
Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi cekcok yang hebat. Semestinya Anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap
memberikan kado \" kesediaan mengalah\". Okelah, Anda mungkin kesal atau marah karena dia telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa mesti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut ? Kesediaan untuk mengalah sudah dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna didunia ini.
SENYUMAN
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputus asaan. pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan
isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi?
Sumber: ukhuwah.or.id
Is seorang penyayang kucing yang sulit dicari tandingannya. Sebagai karyawan harian dengan gaji Rp 12.000.- per hari, ia sisihkan Rp 2.000.- untuk enam ekor kucing kecintaannya. Pagi yang bahagia bagi Is, bila ke enam ekor kucingnya sudah sarapan kenyang dengan menu istimewa, berkumpul mengelilinginya berdesakan berebut duduk dipangkuannya sambil krrrrr... krrrrr menemaninya minum kopi. Dalam keadaan seperti itu, Is seperti menemukan kebahagiaannya sendiri. Sementara istrinya bergerak seperti mesin.Mekanis.Sibuk menyiapkan makan pagi bagi anak-anaknya yang segera berangkat sekolah. Tidak ketinggalan stmj (susu telor madu jahe) buat "abu hurairah" (si ayah kucing).Begitulah hari-hari dalam keluarga Is, kucing sudah mendapat posisi jauh melampaui hak-haknya.
Memang sudah wataknya, musibah seringkali datang tidak pernah terbayang sebelumnya.Hari-hari itu, keempat dari enam ekor kucingnya mendadak tidak mau makan dengan sebab yang tidak jelas. Is sangat gelisah.Menu khusus dihidangkan. Empat sehat lima sempurna. Susu murni, daging cincang, wortel parut, juga telor. Kucing-kucing itu tetap saja melengos dengan sorot mata sayu. Hari-hari berikutnya, badannya melemah, makin kurus, tidak lagi lincah, bahasanya hanya pandangan kosong seakan hendak mengucapkan selamat tinggal. Is jadi bingung. Terpikir oleh Is, kucing-kucingnya ini rupanya stress menahan rindu berat. Memang akhir-akhir ini, Is sering keluar kota mencari tambahan nafkah bagi keluarganya.Ia menghabiskan waktu lebih banyak mengurus kucingnya. Ia terus mengelus-elus, menyodorkan makan sambil membujuk dengan janji-janji. Tak kan pernah lagi mau lama meninggalkan kucing-kucingnya. Tapi kucing-kucingnya sudah berketetapan bulat untuk terus mogok makan.
"Tidak ada jalan lain, mereka harus dibawa kedokter" katanya. Sang istri yang sejak tadi tekun menyulam, tiba-tiba nyletuk :"bila kucing-kucing itu dibawa kedokter... itu berarti..". :"Berarti appaa !" bentak Is dengan suara tinggi. :"itu berarti bulan ini kita sekeluarga minum teh, kopi tanpa gula, anak-anak juga tidak minum susu... tapi terserahlah" jawab sang istri menahan diri sambil kembali menekuni sulamannya. Walhasil, pada hari yang ditetapkan, satu persatu kucing-kucing itu mati selang beberapa jam. Is terpukul berat. Ia merasa bersalah bahkan berdosa. Kucingnya tinggal dua ekor. Keruan saja mendapat perhatian serba lebih dari sebelumnya. Seperti kata orang, musibah seringkali datang tidak sendiri melainkan afwaja (susul menyusul). Dua minggu selepas hari sedih itu, Klepon dan Tiwul, begitu nama kedua kucingnya yang tinggal, mengikuti gejala saudara-saudaranya..Mulai mogok makan. Is panik. Sang istri, meski ikut tegang, berpura-pura tidak tahu kegelisahan suaminya. Diam-diam, ibu tiga anak ini berandai-andai "... kalau saja dua ekor kucing terakhir ini mati juga, alangkah bahagianya keluarga ini... setidaknya biaya untuk kucing-kucing itu bisa di alihkan untuk rekreasi keluarga di akhir minggu.Juga Mirna anak bungsunya akan sempat juga mendapat elusan ayahnya... semoga".
"Kullun fi falaqin yasbahun" (segala sesuatu punya orbitnya masing-masing, alquran).Setiap orang juga punya dunia sendiri. Tiba-tiba sang ibu mengumumkan pada ketiga anaknya :"Minggu depan kita semua akan rekreasi di Bengawan Solo, sambil makan pecel karak". Yang disambut teriakan gembira si bungsu Mirna. Suasana gembira itu segera disambut :"Saya tidak akan ikut kemana-mana! Sebelum Klepon dan Tiwul sembuh".bentak Is sambil memukul dinding triplek penyekat kamarnya. Mirna merayap pelahan masuk kedalam kamar, bibirnya gemetar menggumamkan do’a :"Ya Allah, semoga kucing-kucing itu mau mengembalikan ayah kami, amien". Hari itu, Jum’at, hari kelima Klepon dan Tiwul mogok makan. Kegelisahannya tidak lagi bisa disembunyikan. Tak henti-hentinya ia mengelus, membujuk, memaksa mereka makan. Hasilnya, batuk-batuk, muntah, mengerang sakit sepertinya keracunan. Is tidak menyerah meski kondisi mereka semakin parah. Sabtu adalah hari keenam. Kucing-kucingnya yang lalu, mati dihari ketujuh membayanginya menambah kepanikan Is.Hari ini, malam ini adalah akhir dari segala daya upaya, pikirnya. Setelah lama muram dan merenung dikamarnya Is nampak berupaya lebih tenang. Seperti sudah menemukan resep mujarab. Sore itu, sebentar-sebentar ia melihat jam, keteras melihat langit, seperti orang puasa menunggu maghrib. Selepas isya', Is menggendong kucing-kucingnya, mengunci diri di kamar depan.Klepon dan Tiwul di pangkuannya, merintih lemas. Sorot matanya pudar, mengambang tak bersinar, memelas (bhs.jawa minta belas kasihan, pen) tertuju arah tuannya. Is trenyuh (bhs.jawa luluh tercabik hatinya, pen). Tenggelam sempurna dalam kesedihannya. Is menggelar sajadah, bersila menghadap kiblat. Klepon dan Tiwul dibaringkan dihadapannya. Entah siapa gurunya. Ia mulai membaca qulhu (surat al ihlas dlm.al quran) tujuh puluh tujuh kali dan ayat kursi (petikan beberapa ayat dari surat albaqoroh,al quran) 23 kali, untuk kesembuhan Klepon dan Tiwul. Begitu niatnya. Apa mau dikata, sampai pada bacaan ke 99, Klepon dan Tiwul menggeliat, mengejangkan kakinya beberapa detik dan tidak pernah bergerak lagi. Mereka mati selang beberapa menit. Tidak seperti empat ekor kucingnya terdahulu, di tengah malam buta itu, Is sendirian mengubur cintanya lebih dalam.
Menjelang subuh di hari ketujuh itu, lailatul-qodar mampir di hatinya. Ia sempatkan sholat malam yang dihiasi isak tangis, khusuk dan sujud yang panjang. Adzan subuh terdengar, tidak seperti biasanya, ia bangunkan istri dan anak-anaknya dengan semangat gembira. "Ayo bangun, sholat semuanya, siap-siap, kita akan akan rekreasi ke Bengawan Solo rame-rame ayo..." .Sambil mengusap matanya yang masih berat, Mirna bertanya pelan pada sang ayah :"Ayah....ayah..ayah, apa si Klepon dan Tiwul sudah sembuh ?". Sambil tersenyum, Is menjawab ramah :"Bukan... bukan... tidak Mirna ayah yang sudah sembuh" Do’a Mirna agaknya didengar Allah dan kucing-kucing itu rela mati untuk mengembalikan sang ayah pada anak-anaknya.
Diilhami dari kisah nyata yang diceritakan oleh : Haydar Yahya)
Sumber: http://www.cintarasul.co.id
Tuk semua pecinta kucing khususnya diri saya sendiri: "Semoga bisa menempatkan cinta kita sesuai porsinya."
Tuk semua saudaraku yang sempat cemburu pada Devan (my cat): "Afwan yaaa...."
Ali k.w. pernah menyampaikan kepada kaum muslimin tentang Islam sebagaimana yang diimaninya dan dijadikan kamus hidupnya adalah sbb:
1. Tuntutlah ilmu, karena dengan itu kalian menjadi orang yang mengerti..., dan amalkanlah karena dengan itu kalian akan menjadi ahlinya...
2. Ketahuilah bahwasanya dunia ini akan pergi menjauh, sedangkan akhirat makin mendekat, dan masing-masing mempunyai anak buah dan pengikut-pengikutnya. Oleh sebab itu, jadilah kalian pengikut akhirat dan sekali-kali jangan menjadi pengikut dunia.
3. Ketahuilah bahwasanya orang-orang yang zuhud menjadikan bumi ini sebagai hamparan, tanah sebagai alas tidur dan air sebagai pencuci diri.
4. Ketahuilah barangsiapa yang rindu kepada akhirat, pastilah akan lupa pada hawa nafsunya....
5. Barangsiapa yang takut akan neraka, pastilah akan menghindari hal-hal yang haram....
6. Dan barangsiapa yang menginginkan surga, pastilah akan bergegas dalam menjalankan ketaatan....
7. Barangsiapa yang berlaku zuhud di dunia ini, pasti terasa ringan beban malapetakanya....
8. Ketahuilah, Allah mempunyai hamba-hamba yang terhindar dari kejahatan diri mereka... , hati mereka selalu cemas dan berduka... , jiwa mereka suci... , kebutuhan mereka enteng dan mudah terpenuhi...
Mereka bersabar dalam penderitaan yang cuma sebentar ini demi akhir kesudahan yang panjang dan menyenangkan nanti. Apabila kalian melihat mereka di malam hari, mereka tegak berdiri melakukan shalat dan pipi mereka basah bersimbah airmata... , berbisik dalam keheningan malam kepada Allah untuk membebaskan diri mereka dari dosa... Di siang hari, mereka adalah orang-orang yang kelaparan dan kehausan, penyantun, suci dari perbuatan maksiat, taqwa kepada Allah, seakan-akan mereka ini orang yang lemah, sehingga setiap orang yang melihatnya akan berkata "orang ini pasti sakit", padahal ia sama sekali tidak sakit. Akan tetapi ia sedang menghadapi masalah yang teramat berat...
Ditulis kembali dari buku: Khalifah Rasulullah karya Khalid Muh.Khalid
Segala sesuatu itu ada dan akan terjadi sesuai dengan ketentuan qadha dan qadar. Ini merupakan keyakinan setiap muslim, para pengikut setia Rasulullah SAW. Yakni keyakinan mereka bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak akan pernah ada dan terjadi tanpa sepengetahuan, izin dan ketentuan Allah SWT.
Tiada suatu bencana pun yang terjadi di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam kitab Lauh al-Mahfudz sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS Al-Hadid: 22)
Dan, sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS Al-Baqarah: 155)
Cobaan bagi seorang mukmin adalah kebaikan, “Sungguh unik perkara orang mukmin itu! Semua perkaranya adalah baik. Jika mendapat kebaikan ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ditimpa musibah ia bersabar, maka itupun sebuah kebaikan baginya. Dan ini hanya akan terjadi pada orang mukmin,” demikian Rasulullah bersabda.
Rasulullah juga telah berpesan, “Jika engkau memohon, maka memohonlah kepada Allah, jika engkau minta pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya seluruh makhluk berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu niscaya mereka tidak akan mampu memberikannya, selain yang telah ditetapkan Allah bagimu. Dan, seandainya mereka semua berkumpul untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu selain yang telah ditetapkan Allah atasmu. Pena-pena telah kering dan lembaran-lembaran telah dilipat.”
Dalam sebuah hadits shahih yang lain disebutkan, “Ketahuilah bahwa apa yang akan menimpamu tidak akan pernah luput dan apa yang tidak akan menimpamu tidak akan pernah menimpamu.”
Pernah pula Rasulullah mengatakan pada sahabatanya yang mulia, “Pena telah kering, wahai Abu Hurairah, berkaitan dengan apa yang akan engkau hadapi.”
Di lain waktu Rasulullah memberikan panduan, “Kejarlah apa yang bermanfaat untukmu, dan mintalah pertolongan kepada Allah. Jangan mudah menyerah dan jangan pernah berkata, 'Kalau saja aku melakukan yang begini pasti akan jadi begini.' Tapi katakanlah, 'Allah telah mentakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki pasti akan Dia lakukan.'”
Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah dia bersabda, “Allah tidak menentukan sebuah qadha bagi hamba kecuali qadha itu baik baginya.”
Berkaitan dengan hadist ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimyah pernah ditanya, "Apakah maksiat itu baik bagi seorang hamba?" Beliau menjawab, "Ya! Namun dengan syarat dia harus menyesali, bertaubat, beristighfar, dan merasa sangat berasalah."
Allah berfirman, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (QS Al-Baqarah: 216)
Sobat, memang Allah SWT yang bisa dan berhak menetapkan qadha dan qadar bagi kita, makhlukNya. Namun demikian, Allah tetap memberikan kesempatan bagi hambaNya yang mau berusaha untuk merubah hidupnya, memperbaiki hidupnya dengan Usaha, Doa dan Tawakkal. Disitulah salah satu bukti KeMahaAdilan Allah SWT, yakni meletakkan Takdir itu di ujung Usaha kita. So... marilah tetap berusaha untuk memperbaiki diri. Jangan pernah menyerah sampai nyawa diambil kembali oleh Pemiliknya.
Diambil dari www.eramuslim.com dg beberapa tambahan dari seorang teman :)
Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.
Suatu hari, ayah meminta saya mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.
Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, "Ayah tunggu kamu di sini pukul 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama."
Segera saja saya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh ayah.
Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu ingat, jam telah menunjukkan pukul 17.30, langsung saya berlari menunju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayah yang ternyata sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18.00.
Dengan gelisah ayah menanyai saya, "Kenapa kau terlambat?"
Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton film John Wayne sehingga saya menjawab, "Tadi, mobilnya belum selesai sehingga saya harus menunggu."
Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan, kini ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata, "Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kamu sehingga kamu tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkan nhal ini baik-baik."
Lalu, dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dia alami hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.
Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi. Tobat, sesungguhnya. Seringkali saya berpikir mengenai episode ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tanpa-kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa-kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin.
Itulah kekuatan tanpa-kekerasan.
(Disadur dari The Power Of Nonviolence oleh Dr. Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi dan pendiri Lembaga M.K.Gandhi untuk Tanpa-Kekerasan-CN02)
